Tampilkan postingan dengan label Ulasan Market. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulasan Market. Tampilkan semua postingan

Penurunan IHSG: Saham Apa Yang Bagus?

Pada saat-saat IHSG sedang bergerak turun, banyak ketidakpastian global, tidak sedikit trader saham yang mulai panik, khawatir jika IHSG akan down terus, dan banyak trader yang bingung harus apa ketika IHSG lagi turun. 

Penurunan IHSG yang saya maksud disini bukan hanya sekedar koreksi normal, tetapi penurunan yang membuat tren IHSG menjadi downtrend atau sideways. Intinya, penurunan IHSG yang membuat tren IHSG sulit bergerak naik. Contohnya seperti ini: 

Historis IHSG
Sebenarnya, secara historis, IHSG kita sudah pernah beberapa kali mengalami penurunan yang cukup tajam. Jadi ketika anda menemukan IHSG yang sedang berada dalam tren turun, anda tidak perlu panik, karena kita sudah pernah mengalami hal tersebut. 

1998 --> IHSG pernah turun 50% lebih dari titik tertinggi sebelum koreksi
2008 --> IHSG mengalami penurunan dari titik tertinggi (sebelum koreksi) sekitar -25%
2013 & 2015 --> IHSG mengalami penurunan sekitar 15-18%
2019 --> IHSG mengalami penurunan sekitar 14% (dari 6.638 ke 5.800), tapi setelah itu IHSG naik lagi. 

Dan setelah IHSG mengalami koreksi besar, IHSG tidak langsung naik, melainkan sideways dulu dan setelah benar-benar berada di titik jenuhnya, barulah IHSG bisa naik. Disitu kemudian saham2 yang sudah murah akhirnya naik lagi bahkan melebihi harga sebelum koreksi besar. 

Jadi kalau anda berada dalam masa-masa penurunan IHSG, anda tidak perlu panik, karena jika anda melihat IHSG dalam jangka panjang, maka IHSG SELALU bergerak naik alias uptrend. Kita bisa lihat grafik historis IHSG berikut: 

IHSG 10 tahun
IHSG selalu uptrend dalam jangka lebih panjang. Walaupun di dalam tren naiknya, anda bisa perhatikan tetap saja ada tren-tren turun yang terjadi. 

Itu artinya, setelah IHSG turun banyak, pasti ada masa di mana IHSG naik, dan karena perkembangan zaman semakin maju, ekonomi semakin maju, maka pelaku pasar akan semakin percaya untuk berinvestasi dan trading di pasar saham Indonesia juga. 

Nah, kalau IHSG mengalami koreksi besar tetapi bukan crash market, anda harus melihat pergerakan IHSG saat itu. Artinya, kalau IHSG cenderung koreksi tapi masih banyak technical reboundnya, maka anda bisa manfaatkan untuk trading. 

Crash market biasanya terjadi kalau IHSG sudah turun 25% lebih dari harga sebelum koreksi seperti tahun 1998 dan 2008. Kalau IHSG masih turun 15% misalnya, maka IHSG belum dikatakan crash market. 

Tetapi jika IHSG sudah crash market atau koreksi tajam dan jarang rebound (seperti yang terjadi tahun 2015), maka memang anda harus banyak wait and see, terutama buat swing dan positioning trader. 

Jika koreksi IHSG masih banyak didukung dengan technical rebound, maka anda bisa memilih saham-saham yang mudah rebound, dan saham2 yang pergerakannya mengikuti IHSG. 

Anda bisa pelajari juga cara-cara memilih saham yang sedang diskon disini: Full Praktik Menemukan Saham Diskon & Murah. 

Karena IHSG masih turun, maka anda bisa menggunakan strategi trading dengan time frame yang lebih pendek. Misalnya trading harian atau trading mingguan. Hal ini karena ketika IHSG turun, maka mayoritas kenaikan saham biasanya tidak bertahan lama, dan setelah itu akan cenderung koreksi lagi. 

Selama penurunan IHSG, anda juga perlu memperhatikan isu, sentimen yang terjadi di market. Penurunan IHSG bisa jadi menjadi titik balik uptrend atau justru sebaliknya, IHSG semakin turun karena sentimen2 negatif yang masih terus gencar berada di market. 

Tapi intinya disini saya ingin menyampaikan bahwa pada saat IHSG turun tajam, anda tidak perlu panik, karena bukan pertama kali IHSG turun tajam, dan ketika IHSG turun, IHSG selalu balik uptrend dalam waktu lebih panjang. 

Anda tetap bisa trading dengan strategi2 tersebut. Tentunya anda harus disiplin dalam take profit dan cut loss. Dan anda harus tetap perhatikan sentimen2 market saat itu.


Katalog produk digital dan jasa freelance indonesia, cek dibawah ini.

Analisis IHSG: Arah IHSG Selanjutnya?

Tidak terasa tinggal 3 bulan lagi sudah memasuki akhir tahun. Setiap hari, pasar saham selalu mengalami fluktuatif, dan untuk anda yang sudah berpengalaman di market, anda pasti selalu menghadapi fluktuatif market ini. 

Untuk saat ini, kita semua menghadapi kondisi market yang cenderung turun / donwtrend, di mana kondisi perekonomian dunia, kondisi politik dalam negeri semuanya serba tidak pasti. 

Kita bisa lihat contoh-contohnya di mana harga komoditas cenderung turun, perang dagang, politik yang masih belum kondusif, plus indeks-indeks utama dunia seperti Dow Jones, Nasdaq yang cenderung downtrend dalam setahun terakhir. 

Hal inipun tentu berimbas ke IHSG. Oke sekarang kita coba lihat chart IHSG selama 6 bulan. 

Analisis IHSG: IHSG 6 bulan
Selama 6 bulan, kita bisa lihat IHSG sempat downteend, di 1-2 bulan, namun ada tekanan rebound dan akhirnya IHSG rally dan sempat kembali ke 6.400-an. Tapi kemudian IHSG sideways, dan akhirnya turun lagi. 

Kenaikan IHSG ini nggak bertahan lama karena banyak sentimen2 negatif seperti yang sudah kita bahas di paragraf kedua pos ini.  

Dan karena sekarang IHSG sudah sempat jatuh dibawah 6.000, maka IHSG secara teknikal maupun fundamental cukup rawan. Karena support-support penting IHSG sudah jatuh. Pertama adalah support 6.025 (tanda lingkaran kedua, ditengah). 

Kedua adalah support psikologis 6.000 (lingkaran ketiga). Namun untuk support psikologis 6.000 ini terkesan masih ditahan supaya nggak jatuh lebih dalam. Karena setelah mencapai upport 5.990, IHSG selalu berhasil rebound lagi diatas 6.000. 

Tapi kalau memang sentimen2 negatif seperti politik, perang dagang masih berlanjut, maka bukan tidak mungkin IHSG benar-benar jatuh dibawah support 6.000. 

Kalau kita chart diatas yaitu chart 6 bulan, sebenarnya masih ada satu support terendah (tanda lingkaran pertama), lebih tepatnya itu ada di angka 5.770, di mana support 5.770 ini berbalik menjadi fase rebound. Jadi kalau IHSG turun dibawah 6.000, 5.900, maka IHSG akan menguji support 5.770 ini.  

Oke, sekarang kita coba perpanjang chart IHSG menjadi 1 tahun. Perhatikan analisis chart IHSG berikut: 

Analisis IHSG - 1 tahun
Sedangkan kalau kita perpanjang chartnya menjadi 1 tahun, maka tampak bahwa IHSG masih ada support lanjutan lagi di 5.500-5.600, di mana boleh saya katakan support ini sebagai strong support karena support ini cukup sering tersentuh (tanda persegi). 

Jadi jika IHSG ternyata turun dibawah 5.770, maka support selanjutnya adlaa 5.500-5.600. Apakah IHSG bakal turun sampai di support2 itu? Kita semua tidak bisa memastikan. Namun kalau kita lihat data-data sentimen negatif yang sedang terjadi: 

  • Perang dagang
  • Kondisi politik belum stabil 
  • Pertumbuhan ekonomi dunia melambat 
  • Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II melambat (meskipun data ini masih jauh lebih bagus dibandingkan tahun 2008, 1998)
  • Harga-harga komoditas jatuh 
  • Kepanikan terhadap potensi resesi

Maka IHSG sangat rawan turun lagi dari support 6.000. Apalagi kita lihat secara, support2 pentingnya 6.025, 6.000 sudah jatuh. Namun, tetap saja ada data-data pendukung yang membuat IHSG masih ada potensi tertahan: 

  • Menjelang akhir tahun (window dressing)
  • IHSG yang sudah jenuh jual (secara teknikal)

Karena ini sudah mulai menjelang akhir tahun, maka ada kemungkinan IHSG juga ada momentum rebound, karena biasanya di akhir tahun IHSG cenderung naik atau setidaknya tertahan dari koreksi. Di satu sisi, IHSG yang sudah mulai jenuh jual secara teknikal, juga membuat IHSG bisa tertahan. 

Satu hal lagi, laporan keuangan kuartal III juga bisa mempengaruhi arah IHSG. Kalau ternyata hasil laporan keuangan emiten banyak yang memuaskan (labanya pada naik), setidaknya IHSG bisa terdongkrak. 

Tapi yang lebih penting, anda juga harus melihat kondisi2 terdekat seperti yang saya sebutkan tadi, misalnya politik (misalnya demo), perang dagang, penurunan harga komoditas. Kalau dalam waktu dekat, ada isu2 yang negatif lagi (tentu kita tidak berharap), maka tidak ada alasan IHSG turun lagi. 

Sejauh ini, IHSG dan mayoritas saham ketika rebound juga masih nanggung, di mana saham2 yang rebound hanya terjadi sebentar. Misalnya, sesi 1 pada naik, tapi sesi 2 balik turun lagi. 

Jadi strategi trading saat ini, untuk para trader, anda harus lebih banyak wait and see dulu, terutama kalau saham-saham sudah jatuh di support2 penting dan strong support-nya, maka amati support2 selanjutnya, dan jangan terburu masuk. 

Trading jangka pendek lebih bagus untuk diterapkan dalam kondisi market saat ini. Artinya, kalau anda sudah profit, jangan hold saham terlalu lama, terutama untuk saham2 komoditas. 

Mengingat tren IHSG yang masih nggak jelas, naik sebentar turun banyak. Dan saya pribadi juga dapat banyak pertanyaan dari rekan2 untuk membahas tentang ulasan dan analisa IHSG ini.  

Semoga pos ini bisa menjawab pertanyaan rekan-rekan tentang analisis dan ulasan IHSG, dan membantu anda untuk menyusun strategi trading secara otodidak berdasarkan kondisi riil market saat ini. 


Katalog produk digital dan jasa freelance indonesia, cek dibawah ini.

Strategi Trading Saat Politik Memanas

Kondisi stabil tidaknya politik suatu negara dapat sangat berdampak terhadap optimisme pelaku pasar (trader dan investor) untuk memutuskan apakah mereka akan masuk di saham2 Indonesia atau menjual dan hengkang dulu. 

Kalau kondisi politik sedang memanas, bergejolak, dan sedang tidak kondusif maka pelaku pasar akan memilih untuk menjual saham, sehingga banyak harga saham yang turun. Demikian juga sebaliknya, ketika kondisi politik kondusif atau bahkan sedang bagus2nya, maka pasti banyak trader dan investor yang kembali masuk ke pasar saham. 

Nah, kita sendiri seringkali menghadapi kondisi di mana politik sangat tidak kondusif. Misalnya yang baru-baru ini kita hadapi: Demo mahasiswa (dan banyak pihak2 tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan situasi ini untuk memuat rusuh), demo dan kerusuhan di Papua yang membuat pelaku pasar menahan diri untuk masuk ke pasar hsama Indonesia. 

Maka dari itu, pada saat kondisi politik masih bergejolak dan tidak pasti, ada beberapa strategi trading yang bisa anda gunakan:  

1. Lebih banyak wait and see, dan tunggu saham di support2nya 

Kondisi politik yang bergejolak ada baiknya anda lebih banyak melakukan wait and see, karena dalam kondisi seperti itu, akan ada banyak saham yang harganya turun terus. Dalam kondisi politik yang masih bergejolak, belilah saham2 dengan jumlah (lot) yang lebih kecil. 

2. Manfaatkan momentum technical rebound

Anda bisa memanfaatkan momentum techincal rebound untuk short term trading. Pada saat IHSG turun, pasti ada momentum di mana saham2 yang sudah diskon akan rebound jangka pendek. Pelajari juga: Full Praktik Menemukan Saham Diskon & Murah. 

Disitulah anda bisa momentum untuk mentradingkan saham2 yang naik pasca turun banyak. Pada saat saham sudah murah / turun berhari-hari, trader pasti akan mengangkat lagi harganya dalam jangkap pendek. Pelajari konsepnya disini: Technical Rebound Saham

Namun walaupun demikian, pada saat kondisi politik sedang bergejolak, banyak saham yang hanya naik sesaat (jangka pendek), sehingga trading jangka pendek lebih cocok diterapkan ketika market berada dalam fase downtrend, dan belum ada tanda-tanda sentimen positif. 

3. Nggak trading atau beli saham sama sekali 

Buat anda yang tidak yakin dengan kondisi politik dan banyak saham yang pergerakannya menunjukkan fake signal, maka anda boleh memutuskan untuk tidak membeli saham terlebih dahulu, dan menunggu sampai tekanan bearish reda (politik kondusif). 

Kondisi politik ujung2nya akan sangat berdampak terhadap perekonomian. Kalau kondisi politik tidak kondusif, dampaknya juga pasti akan ke perekonomian negara. Kondisi politik yang tidak kondusif membuat investor akan was-was untuk menanamkan modal di suatu negar. 

Maka harus diakui bahwa kondisi politik yang sedang tidak kondusif membuat banyak saham bergerak tidak sesuai harapan, karena investor hanya akan investasi di sektor riil maupum masuk pasar saham ketika kondisi politik dan ekonomi sedang baik / stabil. Oleh karena itu, kalau kondisi politik sedang kurang baik, anda harus lebih berhati-hati dalam trading. 

Lebih baik anda menyimpan banyak cash yang bisa anda belanjakan saat saham2 sudah murah, ketimbang anda terburu membeli banyak saham.


Katalog produk digital dan jasa freelance indonesia, cek dibawah ini.

Analisis Pasar Saham - Strategi Trading

Selain trading saham, sebagai trader dan analis untuk diri anda sendiri, anda perlu melakukan analisis pasar saham atau analisis IHSG. Terutama anda yang sering trading di saham2 LQ45 or saham blue chip, maka analisis IHSG ini penting, karena pergerakan saham2 tersebut seringkali searah dengan IHSG. 

Kita tahu bahwa pergerakan IHSG pastinya fluktuatif. Ada saat di mana IHSG bullish dan saham2 naik. Ada saat IHSG strong bearish. Ada saat IHSG mengalami kondisi ketidakpastian. 

Dan inilah yang akan kita bahas: Ketika IHSG berada dalam tren yang tidak pasti. Seperti ini yang saya maksudkan dengan 'tren IHSG yang tidak pasti': 

Analisis IHSG
Salah satu ciri IHSG yang berada dalam tren yang tidak pasti adalah terjadinya tren sideways IHSG dalam periode tertentu. Seperti yang anda lihat diatas (kedua tanda persegi). Pada kondisi seperti itu, kita tidak tahu apakah IHSG mau bullish or bearish? 

Anda bisa perhatikan tanda persegi pertama saat IHSG sideways, namun kemudian IHSG langsung bearish. Di saat-saat sideways-nya IHSG, akan ada banyak spekulasi IHSG akan lanjut naik atau jatuh di support2 kuatnya. 

Tips untuk menganalisa kondisi seperti ini adalah: Lihatlah sentimen yang banyak dibicarakan saat itu dan perhatikan tren IHSG sebelumnya. 

Sebagai contoh, kalau saat itu lagi banyak sentimen2 negatif, atau jika tren IHSG sebelumnya sudah naik (uptrend), maka IHSG setelahnya sangat berpotensi turun. 

Pada saat masih banyak sentimen negatif, IHSG akan 'sangat sensitif', sehingga berita2 negatif akan dengan mudah membuat IHSG koreksi. Demikian juga ketika IHSG sudah berada dalam tren naik, lalu sideways, maka hal ini pertanda IHSG sudah mulai tidak kuat untuk melanjutkan uptrend-nya lagi. 

Perhatikan juga tanda persegi kedua. Kita juga menghadapi hal yang sama: IHSG trendless. Pada grafik memang ada double bottom (pola rebound), tetapi IHSG nggak mampu rebound dengan meyakinkan. Setelah rebound akan dilanjutkan dengan koreksi besar.

STRATEGI TRADING

Dalam ketidakpastian tren IHSG, trading jangka pendek (harian - beberapa hari) dengan memanfaatkan momentum koreksi - technical rebound adalah strategi trading yang bagus untuk diaplikasikan. 

Karena disitu anda bisa memanfaatkan momentum fluktuatif market yang agak cepat, yaitu momentum membeli ketika technical rebound, dan jual jangka pendek ketika target harga sudah tercapai beberapa persen. Pelajari juga: Strategi Trading Harian Saham

Dalam kondisi market yang masih belum pasti, menyimpan saham lebih lama akan lebih berisiko, karena IHSG masih rentan turun, dan masih ada potensi downtrend lanjutan. Maka umumnya, saham2 yang naik, tidak lama kemudian akan mudah koreksi. 

Untuk anda yang ingin hold, anda tetap bisa hold saham-saham yang pergerakannya tetap naik ketika IHSG sedang turun, namun dalam kondisi market seperti itu, memang tidak terlalu banyak saham yang cenderung bagus untuk di-hold. Anda bisa pelajari strategi swing trading disini: Teknik Strategi Trading Saham Mingguan.

Sedangkan kalau market sedang strong bullish, disitulah anda bisa memanfaatkan momentum untuk buy and hold (anda juga harus memilih saham2 yang pergerakannya bagus). Dalam kondisi market bullish, teknik swing trading tersebut akan lebih menguntungkan dibandingkan saat IHSG dalam tren tidak pasti atau bahkan strong bearish.  

Jadi strategi trading terkadang juga perlu menyesuaikan dengan situasi dan kondisi market saat itu. Analisa teknikal, kondisi market, screening saham perlu anda lakukan dalam trading. 


Katalog produk digital dan jasa freelance indonesia, cek dibawah ini.

3 Tanda IHSG Akan Rebound

Beberapa waktu ini, kita sering membahas tentang pergerakan IHSG secara luas dan peluang-peluang trading yang bisa anda ambil. Anda bisa baca-baca kembali beberapa pos saya disini: Pasar Saham Turun, Siapkah Anda? dan Strategi Trading Saat IHSG Bearish. 

Sesuai dengan request beberapa rekan-rekan pembaca web Saham Gain ini, maka pada pos ini, saya ingin sharing mengenai apa saja pertanda IHSG akan mengalami rebound? Kalau anda belum tahu istilah rebound di saham, anda bisa baca kembali tulisan saya disini: Technical Rebound Saham. 

Menganalisis dan memprediksi arah market (IHSG) hari ini penting untuk anda yang ingin trading jangka pendek, terutama bagi trader saham yang mengincar saham-saham yang pergerakannya cenderung mengikuti arah IHSG, untuk ditradingkan jangka pendek. 

Jadi ada baiknya, sebagai trader saham kita semua peka terhadap arah IHSG. Ada 3 pertanda IHSG akan atau berpotensi rebound, yaitu jika terdapat kondisi-kondisi berikut:  

1. Kondisi market normal: IHSG sudah koreksi selama lebih dari 2 hari 

Pada saat kondisi IHSG sedang normal (tidak banyak sentimen yang mempengaruhi market), biasanya IHSG yang sudah turun (koreksi normal karena saham2 sudah naik naik) selama 2 hari atau bahkan lebih, merupakan tanda-tanda bahwa IHSG akan mulai berbalik naik. 

Jadi jika IHSG sudah mulai koreksi beberapa hari, anda bisa mulai screening saham2 bagus yang sudah murah (diskon), dan mulai membeli bertahap saham2 yang berpotensi naik. 

Anda bisa menggunakan strategi mencari saham2 murah yang mudah rebound. Pelajari juga: Full Praktik Menemukan Saham Diskon & Murah. 

2. Indeks saham AS menguat signifikan 

Indeks-indeks saham utama di Amerika Serikat (AS) yaitu Nasdaq, SP500 dan Dow Jones. Ketika indeks saham AS semalam ditutup menguat signifikan, maka hal ini bisa menjadi pertanda IHSG rebound keesokan hari. 

Hal ini karena indeks saham AS seringkali digunakan sebagai acuan oleh bursa saham dunia, termasuk Indonesia. Jadi ketika indeks saham menguat signifikan, maka IHSG juga berpotensi rebound. 

Namun indeks AS ini hanyalah sebagai acuan, bukanlah rumus pasti. Mengenai pengaruh indeks saham AS ke IHSG, sudah pernah saya bahas juga disini: Analisa Market: Indeks Dow Jones, S&P500, Nasdaq. Anda bisa pelajari kembali.  

3. Ada sentimen positif setelah IHSG turun tajam   

Sentimen-sentimen positif yang beredar di market setelah IHSG turun tajam, dapat meningkatkan kepercayaan pelaku pasar (trader / investor) untuk koleksi saham-saham yang sudah murah. 

Sentimen2 positif yang terjadi di market misalnya: Sentimen tax amnesty, pulihnya kondisi ekonomi, inflasi mulai stabil (pernah terjadi tahun 1998 dan 2015) dan lain2. Sentimen2 ini bisa mendongkrak kembali pasar saham yang sudah turun banyak sebelumnya. 

Sentimen positif dan IHSG juga bisa kita pelajari melalui siklus pasar saham. Anda bisa baca disini: Memahami Fase Siklus Harga Saham. 

Tapi.... Di pasar saham itu tidak ada rumus pasti, apalagi kalau kita memprediksi IHSG. Ingat, IHSG itu terdiri dari kumpulan seluruh saham di Bursa Efek Indonesia. Dengan kata lain, memprediksi IHSG rebound (yang terdiri dari sekian banyak saham), tentu tidak bisa kita tentukan secara pasti. 

Jadi ketika anda menemukan kondisi-kondisi seperti diatas, jangan langsung beranggapan bahwa IHSG pasti langsung rebound. 

Apa yang saya tuliskan diatas ini dapat anda gunakan sebagai dasar analisis, agar anda bisa mengambil keputusan beli, maupun ancang-ancang untuk trading agar anda tidak ketinggalan momen saat IHSG benar-benar rebound. Dan tentunya, supaya sebagai trader, anda juga bisa peka terhadap kondisi pasar saham. 


Katalog produk digital dan jasa freelance indonesia, cek dibawah ini.

Pembelian Kembali (Buyback) Saham

Pembelian kembali saham alias buyback adalah salah satu aksi korporasi yang dilakukan perusahaan go public dengan cara membeli kembali saham yang beredar di market. 

Buyback saham biasanya dilakukan ketika harga saham perusahaan turun tajam, sehingga ketika perusahaan membeli kembali saham2nya yang turun, diharapkan harga saham bisa naik lagi (karena banyak permintaan). 

Selain itu, ketika perusahaan melakukan buyback, hal ini diharapkan bisa kembali meningkatkan kepercayaan para trader saham untuk membeli saham tersebut, sehingga harganya bisa naik. 

Kalau anda ingin lebih paham penjelasan buyback, saya sudah pernah menuliskan secara detail mengenai penjelasan buyback saham. Anda bisa pelajari lagi tulisan saya disini: Apa itu Buyback Saham?

Di pos ini, kita tidak akan bahas teori buyback lagi, tapi kita akan masuk ke praktiknya di pasar saham. 

Buyback seringkali dilakukan oleh perusahaan2 go public ketika IHSG turun tajam (otomatis banyak saham yang harganya jatuh) karena sentimen2 negatif. Pada saat-saat tersebut, aksi buyback saham biasanya dianjurkan secara langsung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kepada emiten2, dengan tujuan untuk menjaga harga saham agar tidak jatuh terlalu dalam. 

Hal ini pernah terjadi di tahun 2015 (saat ekonomi lesu). Saat saham-saham berjatuhan selama kurang lebih 4 bulan, akhirnya OJK turun tangan mengedarkan surat yang mengajurkan emiten2 untuk melakukan buyback saham. 

Selain itu, di awal tahun 2020 (saat wabah virus Corona), banyak harga saham berjatuhan, dan OJK juga mengeluarkan kebijakan buyback saham melalui surat OJK (siaran pers) kepada seluruh perusahaan go public di Indonesia. Ini salah satu contoh surat kebijakan buyback saham dari OJK:  
Pembelian kembali saham
OJK menganjurkan perusahaan2 untuk melakukan buyback tanpa harus melalui RUPS. Namun biasanya tidak semua perusahaan melakukan buyback saham. Umumnya, perusahaan2 blue chip dan emiten2 plat merah (BUMN) yang rajin melakukan buyback ketika harga saham. 

"Lalu apa dampaknya ke harga saham? Apakah dengan buyback harga saham perusahaan bisa naik lagi?"

Salah satu surat buyback saham diatas dikeluarkan tanggal 9 Maret 2020, pada saat itu IHSG lagi jatuh-jatuhnya. Setelah itu, penutupan indeks AS (Dow Jones, Nasdaq dan SP500) ternyata malam harinya juga masih turun sampai -7% lebih. 

Tapi tanggal 10 Maret 2020, saat sesi pre-opening, IHSG ternyata menguat 0,25%. Dan setelah market berjalan (open), IHSG masih naik terus sampai 2,3%. Kenaikan yang fantastis di tengah sentimen negatif dan jatuhhnya bursa AS. 

Jadi kesimpulannya, buyback saham ini memang benar-benar bisa memberikan efek positif ke harga saham, yang bisa membuat saham-saham technical rebound dan diborong oleh trader jangka pendek... 

Hal ini juga terbukti cukup efektif di tahun 2015 saat buyback. Setelah berita anjuran buyback dari OJK, penurunan harga saham lumayan bisa tertahan. 

Jadi sesuai tujuannya, buyback itu dilakukan untuk menekan penurunan harga saham agar tidak jatuh terlalu dalam. Setidaknya ada rebound kencang di tengah penurunan market.   

"Berarti kalau ada berita buyback saham saat saham2 turun kita siap2 beli saham yang banyak ya Pak Heze?" Tanya anda.. 

Tunggu dulu... Kita harus analisa lagi lebih dalam. Sebenarnya kenaikan harga saham karena berita buyback itu hanya terjadi dalam jangka pendek saja. 

Kembali pada kasus diatas... Kalau OJK mengeluarkan surat anjuran buyback tanggal 9 Maret 2020, dan kemudian tanggal 10 Maret 2020 tiba2 IHSG langsung naik kencang, kenaikan harga saham ini bukanlah dikarenakan perusahaan2 melakukan buyback saat itu juga. 

Logikanya, mana mungkin perusahaan2 langsung melakukan buyback dalam jumlah besar hanya dalam waktu kurang dari sehari setelah surat OJK keluar? 

Jadi kenaikan harga saham pasca berita buyback muncul ini sebenarnya lebih dikarenakan EUFORIA PASAR, dan euforia pasar itu biasanya hanya terjadi dalam jangka pendek. 

Karena berita buyback ini, pasar saham jadi lebih optimis dan punya harapan tinggi bahwa perusahaan2 akan buyback, sehingga harga saham bisa mulai naik dan saham2 mulai bisa dimanfaatkan untuk trading.

Nah, kalau nanti banyak emiten benar2 melakukan buyback, hal ini bisa menekan harga saham agar tidak turun terlalu banyak. 

Tapi lebih penting dari itu semua adalah, kita harus tetap mencermati sentimen2 negatif yang sedang terjadi saat itu, karena berita buyback itu hanyalah 'hiburan' sesaat. 

Kalau pasar saham memang masih lesu, tidak ada sentimen positif, kenaikan harga saham biasanya tidak akan bertahan lama.

Artinya, dalam kondisi seperti itu, anda sebaiknya tidak terburu membeli saham dalam jumlah besar hanya karena IHSG naik sebentar. Kalau anda ingin trading, belilah saham dalam jumlah kecil dan tradinglah di saham2 yang mudah rebound yang harganya sudah murah. 

Dan di dalam kondisi pasar saham turun, anda bisa mempertimbangkan untuk trading jangka pendek atau biasa saya sebut 'hit and run'. Pelajari juga: Full Praktik Menemukan Saham Diskon & Murah. 

Tapi kalau anda adalah tipikal trader yang tidak suka trading jangka pendek, dan ragu-ragu untuk trading di saat pasar saham masih belum pulih, wait and see adalah strategi terbaik untuk anda. 


Katalog produk digital dan jasa freelance indonesia, cek dibawah ini.

Pembelian Kembali (Buyback) Saham

Pembelian kembali saham alias buyback adalah salah satu aksi korporasi yang dilakukan perusahaan go public dengan cara membeli kembali saham yang beredar di market. 

Buyback saham biasanya dilakukan ketika harga saham perusahaan turun tajam, sehingga ketika perusahaan membeli kembali saham2nya yang turun, diharapkan harga saham bisa naik lagi (karena banyak permintaan). 

Selain itu, ketika perusahaan melakukan buyback, hal ini diharapkan bisa kembali meningkatkan kepercayaan para trader saham untuk membeli saham tersebut, sehingga harganya bisa naik. 

Kalau anda ingin lebih paham penjelasan buyback, saya sudah pernah menuliskan secara detail mengenai penjelasan buyback saham. Anda bisa pelajari lagi tulisan saya disini: Apa itu Buyback Saham?

Di pos ini, kita tidak akan bahas teori buyback lagi, tapi kita akan masuk ke praktiknya di pasar saham. 

Buyback seringkali dilakukan oleh perusahaan2 go public ketika IHSG turun tajam (otomatis banyak saham yang harganya jatuh) karena sentimen2 negatif. Pada saat-saat tersebut, aksi buyback saham biasanya dianjurkan secara langsung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kepada emiten2, dengan tujuan untuk menjaga harga saham agar tidak jatuh terlalu dalam. 

Hal ini pernah terjadi di tahun 2015 (saat ekonomi lesu). Saat saham-saham berjatuhan selama kurang lebih 4 bulan, akhirnya OJK turun tangan mengedarkan surat yang mengajurkan emiten2 untuk melakukan buyback saham. 

Selain itu, di awal tahun 2020 (saat wabah virus Corona), banyak harga saham berjatuhan, dan OJK juga mengeluarkan kebijakan buyback saham melalui surat OJK (siaran pers) kepada seluruh perusahaan go public di Indonesia. Ini salah satu contoh surat kebijakan buyback saham dari OJK:  
Pembelian kembali saham
OJK menganjurkan perusahaan2 untuk melakukan buyback tanpa harus melalui RUPS. Namun biasanya tidak semua perusahaan melakukan buyback saham. Umumnya, perusahaan2 blue chip dan emiten2 plat merah (BUMN) yang rajin melakukan buyback ketika harga saham. 

"Lalu apa dampaknya ke harga saham? Apakah dengan buyback harga saham perusahaan bisa naik lagi?"

Salah satu surat buyback saham diatas dikeluarkan tanggal 9 Maret 2020, pada saat itu IHSG lagi jatuh-jatuhnya. Setelah itu, penutupan indeks AS (Dow Jones, Nasdaq dan SP500) ternyata malam harinya juga masih turun sampai -7% lebih. 

Tapi tanggal 10 Maret 2020, saat sesi pre-opening, IHSG ternyata menguat 0,25%. Dan setelah market berjalan (open), IHSG masih naik terus sampai 2,3%. Kenaikan yang fantastis di tengah sentimen negatif dan jatuhhnya bursa AS. 

Jadi kesimpulannya, buyback saham ini memang benar-benar bisa memberikan efek positif ke harga saham, yang bisa membuat saham-saham technical rebound dan diborong oleh trader jangka pendek... 

Hal ini juga terbukti cukup efektif di tahun 2015 saat buyback. Setelah berita anjuran buyback dari OJK, penurunan harga saham lumayan bisa tertahan. 

Jadi sesuai tujuannya, buyback itu dilakukan untuk menekan penurunan harga saham agar tidak jatuh terlalu dalam. Setidaknya ada rebound kencang di tengah penurunan market.   

"Berarti kalau ada berita buyback saham saat saham2 turun kita siap2 beli saham yang banyak ya Pak Heze?" Tanya anda.. 

Tunggu dulu... Kita harus analisa lagi lebih dalam. Sebenarnya kenaikan harga saham karena berita buyback itu hanya terjadi dalam jangka pendek saja. 

Kembali pada kasus diatas... Kalau OJK mengeluarkan surat anjuran buyback tanggal 9 Maret 2020, dan kemudian tanggal 10 Maret 2020 tiba2 IHSG langsung naik kencang, kenaikan harga saham ini bukanlah dikarenakan perusahaan2 melakukan buyback saat itu juga. 

Logikanya, mana mungkin perusahaan2 langsung melakukan buyback dalam jumlah besar hanya dalam waktu kurang dari sehari setelah surat OJK keluar? 

Jadi kenaikan harga saham pasca berita buyback muncul ini sebenarnya lebih dikarenakan EUFORIA PASAR, dan euforia pasar itu biasanya hanya terjadi dalam jangka pendek. 

Karena berita buyback ini, pasar saham jadi lebih optimis dan punya harapan tinggi bahwa perusahaan2 akan buyback, sehingga harga saham bisa mulai naik dan saham2 mulai bisa dimanfaatkan untuk trading.

Nah, kalau nanti banyak emiten benar2 melakukan buyback, hal ini bisa menekan harga saham agar tidak turun terlalu banyak. 

Tapi lebih penting dari itu semua adalah, kita harus tetap mencermati sentimen2 negatif yang sedang terjadi saat itu, karena berita buyback itu hanyalah 'hiburan' sesaat. 

Kalau pasar saham memang masih lesu, tidak ada sentimen positif, kenaikan harga saham biasanya tidak akan bertahan lama.

Artinya, dalam kondisi seperti itu, anda sebaiknya tidak terburu membeli saham dalam jumlah besar hanya karena IHSG naik sebentar. Kalau anda ingin trading, belilah saham dalam jumlah kecil dan tradinglah di saham2 yang mudah rebound yang harganya sudah murah. 

Dan di dalam kondisi pasar saham turun, anda bisa mempertimbangkan untuk trading jangka pendek atau biasa saya sebut 'hit and run'. Pelajari juga: Full Praktik Menemukan Saham Diskon & Murah. 

Tapi kalau anda adalah tipikal trader yang tidak suka trading jangka pendek, dan ragu-ragu untuk trading di saat pasar saham masih belum pulih, wait and see adalah strategi terbaik untuk anda. 


Katalog produk digital dan jasa freelance indonesia, cek dibawah ini.

Dampak Virus Corona terhadap Pasar Saham

Wabah virus Corona yang melanda dunia pada awal tahun 2020, membuat pasar saham benar-benar jatuh. Virus Corona pertama kali terjadi di Wuhan, China. Namun penyebaran virus Corona ini terus meluas ke luar negeri dan Indonesia juga kena dampaknya. 

Sebenarnya dulu kita juga beberapa kali digemparkan dengan virus Ebola, virus Sars tahun 2002 dan virus Mers. Tapi harus saya akui, virus Corona kali ini 'berbeda', dan benar-benar membuat masyarakat dan dunia panik, sehingga pengaruhnya ke pasar saham sangatlah besar. 

Yup, karena kita tahu bahwa penyebaran virus Corona ini sangat mudah dan cepat melalui kontak dengan orang lain yang terinfeksi virus tersebut. Inilah yang membuat masyarakat semakin waspada terhadap wabah tersebut. 


Penurunan IHSG saat wabah Virus Corona

Nah, saya sering mendapatkan pertanyaan seperti ini: "Pak Heze, kenapa virus Corona membuat IHSG jatuh? Apa dampaknya virus Corona ke IHSG? Bukankah dulu juga ada wabah virus-virus lain, tapi dampaknya ke IHSG tidak terlalu besar?" 

Pertama, wabah virus Corona dapat mengguncang dunia usaha (perekonomian dunia), sehingga kalau perekonomian negara-negara turun alias melambat, para investor saham akan berpikir lagi untuk berinvestasi saham. Investor pasti akan menunggu situasi ekonomi membaik, baru kemudian berani berinvestasi. 

Kedua, wabah virus Corona membuat negara-negara menghentikan / mengurangi impor barang-barang dari Tiongkok. Dan Indonesia sudah menerapkan hal tersebut. Menurut data Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Indonesia, impor Indonesia ke Tiongkok berkurang sekitar 51% satu bulan sejak wabah virus Corona. 

Padahal, tidak sedikit perusahaan di Indonesia yang bahan bakunya berasal dari Tiongkok. Kalau impor dari Tiongkok dikurangi secara drastis, hal ini akan sangat mempengaruhi operasi dan omzet perusahaan. . 

Ketiga, kegiatan bisnis terhambat. Ada banyak contoh yang bisa kita lihat sehari-hari. Anda bisa perhatikan perusahaan2 penerbangan, perusahaan jasa (menyediakan tiket pesawat) yang sudah mulai mengalami penurunan omzet karena untuk sementara waktu banyak orang yang mengurangi mobilitas. 

Di sekitar anda, mungkin anda banyak menemukan perusahaan yang omzetnya turun, PHK karena dampak virus Corona membuat perusahaan tidak bisa beroperasi secara maksimal

Selain itu, kegiatan bisnis antar negara juga pasti akan terhambat. Karena dengan wabah virus Corona ini, mobilitas masyarakat (untuk menjalankan bisnis ke antar negara) juga akan terhalang. 

Dampak virus Corona ini juga diperkirakan akan menggerus pertumbuhan ekonomi Tiongkok, dan tentu saja hal ini juga akan mempengaruhi hubungan bisnis dengan negara lain. 

Jadi sebenarnya dunia bisnis, dunia ekonomi antar negara itu saling berhubungan satu dengan yang lain 

Itulah kenapa kalau perekonomian suatu negara (terutama negara-negara besar seperti Tiongkok dan Amerika Serikat) sedang goncang, maka hal ini akan turut mempengaruhi ekonomi negara-negara lain, termasuk Indonesia. Dan pada akhirnya hal tersebut akan berdampak pada pasar saham. 

Yup, jadi Indonesia dengan negara-negara lain memiliki hubungan mutualisme (saling menguntungkan) dalam bidang kerja sama ekonomi, investasi dan perdagangan. Kita banyak melakukan kegiatan impor dari Tiongkok, misalnya impor baja, impor aluminium, barang2 mesin dan lain2. 

Barang impor Indonesia dari Tiongkok - Klik gambar untuk memperbesar. Sumber: Cnbcindonesia.com
Dan semua ini kembali lagi.... Kalau perekonomian negara terganggu, maka Indonesia akan terkena dampaknya. Akibatnya, banyak perusahaan yang tidak bisa membukukan laba bersih dan omzet seperti yang diharapkan, sehingga investor saham akan berpikir untuk membeli saham2 di Indonesia. 

Jadi melalui pos ini, kita semua sudah paham dampak virus Corona terhadap pasar saham. Dampaknya sangat besar dan tidak main-main. Kita sudah lihat bagaimana IHSG turun tajam akibat wabah Virus Corona. 

Tapi tentu saja, kita pasti akan melalui ujian tersebut. Ada masanya IHSG jatuh, ada masanya IHSG dan perekonomian berjaya kembali. 

Kalau kita menghadapi sentimen dan berita-berita negatif yang sangat mempengaruhi pasar saham, maka ada baiknya anda harus mengurangi porsi trading dan beli saham. Kita sudah membahasnya di tulisan berikut: Strategi Trading Saham Saat Turun. 


Katalog produk digital dan jasa freelance indonesia, cek dibawah ini.

Strategi Trading Saat Saham Turun

Untuk rekan-rekan yang ingin mempelajari lebih banyak strategi2 menghadapi market saat strong bearish, beberapa waktu lalu, saya juga update ebook saham yang saya isi dengan strategi2 bagaimana cara menghadapi market saham yang sedang strong bearish dan strategi tradingnya. Anda bisa dapatkan disini: Ebook Saham New Edition: Strategi Trading Saat IHSG Bearish.

Kalau rekan-rekan sudah memiliki ebooknya (Ebook Panduan Memilih Saham Bagus), anda bisa mendapatkan free updatenya (langsung saya kirimkan via email). Rekan trader yang sudah mempraktikkan strategi2 trading & screening saham saat IHSG bearish: 

Terima kasih Pak Heze untuk materi updatenya, sangat membantu terutama ketika menghadapi kondisi "strong bearish" sebagaimana saat ini dan kemungkinan besar akan bertemu lagi di lain waktu dengan faktor pemicu lain.

Jadi di update ebook tersebut, anda akan mempraktikkan lebih banyak: 
  • Cara menganalisa IHSG yang berpotensi turun tajam / strong bearish.
  • Strategi trading & screening saham saat market saham sedang turun.
  • Strategi menemukan peluang trading di tengah market bearish.
  • Keputusan trading saat market bearish: Cut loss, hold atau averaging? 
  • Seni-seni trading untuk menghadapi market yang bearish. 
  • Disertai studi kasus dan pengalaman pribadi penulis dalam trading.
Sehingga anda bisa memiliki seni yang sebenarnya dalam menghadapi pasar saham, karena banyak trader yang bangkrut, modalnya habis akibat gegabah dalam mengambil keputusan trading saat pasar saham bearish. 

$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$

Di pasar saham kita tidak hanya menghadapi hal-hal yang bagus. Ajakan-ajakan yang memberikan anda iming2 "pasti untung di saham" tidak seindah kenyataannya, karena kita pasti juga menghadapi market yang bearish. 

Jadi, anda harus bisa menerapkan seni trading yang benar, supaya anda bisa mengambil keputusan yang baik dan memetik profit di saat IHSG sudah bullish nantinya. 

Harga saham turun merupakan kesempatan dan peluang anda untuk membeli saham-saham di harga murah dan diskon. Pada saat saham turun, anda bisa mendapatkan saham2 dengan jumlah lot lebih banyak dan menjualnya di harga lebih tinggi. Ibarat anda membeli barang dengan harga diskon. 

Namun bagaimana kalau penurunan harga saham ini terjadi secara drastis? Dan yang turun bukan hanya beberapa saham, tetapi IHSG anjlok, mayoritas saham jatuh. Intinya, IHSG mengalami kondisi STRONG BEARISH. 

Apakah strategi tradingnya sama dengan ketika saham-saham sedang koreksi normal biasa? Well, i don't think so. Berdasarkan pengalaman saya pribadi, jika kita terburu membeli saham saat IHSG strong bearish, maka mayoritas saham bakalan turun terus. Pelajari juga tulisan saya disini: 2 Penyebab IHSG Turun

Jadi strategi trading kita saat IHSG koreksi biasa dengan IHSG strong bearish tentu saja berbeda. Untuk kondisi IHSG turun tajam, ada baiknya anda pertimbangkan beberapa hal berikut: 

1. Kurangi porsi trading 

Saat pasar saham strong bearish, ada baiknya anda mempertimbangkan untuk kurangi porsi trading. Semakin banyak anda trading, maka risikonya semakin besar. 

Hal ini karena saham2 saat strong bearish masih berpotensi untuk turun lebih banyak, walaupun kelihatannya saham-saham sudah banyak yang turun dan terlihat murah. Porsi trading harus anda kurangi dan jika anda memutuskan trading, tradinglah dengan modal kecil untuk meminimalkan risiko.  

2. Manfaatkan trading cepat & analisa momentum

Trading di saat IHSG strong bearish bisa anda lakukan dengan memanfaatkan momentum rebound. Karena sebanyak apapun turunnya saham, tidak setiap hari IHSG akan turun. 

Ada saat-saat di mana IHSG mengalami rebound. Inilah yang bisa anda manfaatkan untuk trading. Dan di saat kondisi market belum mendukung  untuk trading, ada baiknya anda memanfaaktna momen trading cepat / intraday trading. 

Yup, yang saya maksud adalah buy and sell di hari yang sama atau 1-2 hari trading. Pelajari juga: Teknik Beli Saham Pagi Jual Sore - Trading Harian

Hal ini karena dalam kondisi IHSG bearish, kenaikan saham tidak bertahan lama dan penurunan harga saham akan lebih tajam dibandingkan technical rebound, sehingga strategi buy and hold kurang tepat diterapkan dalam kondisi market yang bearish. 

Selain itu, untuk anda yang punya tipikal trading menitan, anda bisa menerapkan strategi scalping trading saat market bearish. Pelajari juga: Cara Trading Cepat 15 Menit - Scalping Trading. 

Namun strategi scalping cukup berisiko, sehingga ada baiknya anda menggunakan modal kecil (maksimal 10% modal) dan disiplin dalam take profit. 

3. Wait and see

Jika IHSG sedang turun dan belum ada sinyal kenaikan saham-saham pilihan anda, ada baiknya anda wait and see dan tidak perlu memaksakan trading saham. 

Trading saham tidak harus dilakukan setiap hari, setiap saat. Setiap market buka, pasti ada kesempatan untum meraih profit. Anda tidak perlu menyesal jika tidak trading di hari tersebut. 


Katalog produk digital dan jasa freelance indonesia, cek dibawah ini.

Analisa Market: Indeks Dow Jones, S&P500, Nasdaq

Di halaman Rekomendasi Saham, saya sering mengulas analisa dan pergerakan saham-saham yang potensial. Tapi disitu, saya juga sering menambahkan ulasan-ulasan tentang kondisi pasar saham Amerika Serikat (AS) terkini khususnya indeks Dow Jones, indeks SP500 dan indeks Nasdaq. 

Dari sinilah banyak rekan-rekan pembaca web Saham Gain bertanya: "Pak kenapa sering ulas Bursa saham AS juga? Pengaruhnya apa ke IHSG? Bukankah kita trading di pasar saham Indonesia, apakah Bursa saham AS juga bisa mempengaruhi IHSG?"

Memang pergerakan pasar saham AS (ketiga indeks itu tadi) tidak selalu berpengaruh terhadap IHSG. Tetapi ada momen dan saat-saat tertentu di mana anda harus memperhatikan pergerakan indeks2 tersebut, karena indeks AS juga bisa mempengaruhi pergerakan IHSG.. 

Dalam hal apa anda perlu memperhatikan pergerakan indeks Dow Jones, SP500, Nasdaq?

Ketika pasar saham sedang mengalami kondisi (strong) bearish, dan banyak sekali sentimen2 negatif di seluruh pasar saham dunia, maka untuk anda KHUSUSNYA PARA TRADER SAHAM yang ingin trading dan mengincar saham untuk jangka pendek, anda harus pertimbangkan kondisi market AS sebelum anda membeli saham di hari besoknya. 

Kondisi pasar saham yang buruk ini sudah terjadi beberapa kali di pasar saham Indonesia dan dunia, misalnya tahun 2008, 2015, awal 2020 (saat ada wabah virus Corona). 

Jadi katakanlah sekarang adalah hari Jumat pagi... Kemudian setelah kita cek closing price indeks Dow, SP500 dan Nasdaq semalam (Kamis malam waktu Indonesia) pada berguguran. 

Maka sebaiknya anda jangan trading saham walaupun sudah banyak saham yang turun, kecuali kalau anda ingin scalping trading dengan mengincar saham2 lapis tiga. Pelajari juga: Cara Trading Cepat 15 Menit - Scalping Trading. 

Menurut analisa yang sering saya amati, indeks saham AS bisa dikatakan turun tajam apabila penurunannya diatas 1% sehari (apalagi kalau ketiga indeks pada kompak turun). Jadi kalau sudah turun diatas 1%, apalagi sampai 2-3%, maka itu sudah pertanda kalau pembukaan IHSG bakalan ikutan drop. Contohnya seperti pergerakan 3 indeks berikut: 



Klik gambar untuk memperbesar

Ketika indeks Dow Jones jatuh sebesar 3,15%, diikuti Nasdaq -2,77% dan S&P500 -3,03%, maka IHSG paginya langsung dibuka turun 1% lebih dan masih berlanjut turun sekitar 2%. Padahal di hari2 sebelumnya, IHSG sudah turun dan banyak saham yang harganya di support. Tetapi karena ada sinyal indeks jatuh, maka hal ini turut mempengaruhi IHSG. 

Bayangkan kalau anda membeli saham di saat seperti itu, maka yang terjadi saham yang anda beli akan turun terus. Bukankah lebih baik wait and see ketika kita sudah melihat sinyal dari indeks AS yang pada berguguran?

Jadi itulah alasan mengapa anda perlu memperhatikan juga analisa indeks AS, terutama kalau kondisi market sedang acak adut.  

"Tapi Pak Heze, kenapa indeks AS turun kok bisa pengaruh ke IHSG? Kan market dan saham-sahamnya saja berbeda?" Tanya anda 

Ya ini sebenarnya lebih ke alasan psikologis saja sih. Karena bursa saham AS selalu menjadi indeks acuan, bukan hanya di Indonesia tapi seluruh dunia. Jadi kalau indeks AS sedang jelek, hal ini bisa memicu reaksi pasar untuk menjual saham atau bahasa sahamnya adalah panic selling. 

Di satu sisi, kalau indeks AS jatuh sebanyak itu, pasti ada apa-apanya kan? Biasanya hal ini terjadi karena memang ada gejolak ekonomi sehingga membuat pasar saham jatuh.

Jadi sekali lagi, untuk anda trader saham, ketika market sedang dalam kondisi yang kurang baik dan anad ingin trading, sering2 juga perhatikan kondisi ketiga indeks tersebut (penutupan kemarin malam), untuk memutuskan apakah anda akan beli saham atau wait and see dulu. 


Katalog produk digital dan jasa freelance indonesia, cek dibawah ini.

Belajar Saham: Beli Saham Berdasarkan IHSG

Kalau anda ingin trading saham, anda mungkin sering mendengar anjuran seperti ini: "Trading saham itu nggak perlu lihat IHSG. Yang perlu dilihat adalah analisa teknikalnya. Kalau IHSG turun, tapi analisa teknikal saham mendukung, itulah saham yang bagus untuk dibeli".

Saya setuju dengan pendapat tersebut (banyak juga trader yang mengatakan hal tersebut). Logikanya, kalau anda ingin membeli saham PGAS misalnya, maka ya anda harus analisa saham PGAS (chart / analisa teknikal), bukan menganalisa IHSG. IHSG kan gabungan pergerakan semua saham di Bursa Efek, bukan hanya saham PGAS saja. 

Saya pribadi juga sering menemukan saham2 yang bisa naik saat IHSG turun, demikian juga dengan rekan-rekan trader lainnya. 

Tapi tentu saja anggapan "trading tidak perlu lihat IHSG" itu tidak selamanya benar. Karena berdasarkan pengalaman saya pribadi, menganalisa pergerakan IHSG itu sangat perlu, terutama kalau anda mengincar saham-saham yang pergerakannya cenderung mengikuti IHSG. 

Saham-saham apakah itu? Jawabannya adalah saham2 blue chip, saham2 LQ45 dan saham2 indeks IDX80. Yup, saham2 tersebut naik-turunnya cenderung searah dengan IHSG. Dan saham2 yang pergerakannya searah dengan IHSG, umumnya adalah saham2 yang likuid. 

Artinya, kalau IHSG sedang naik, saham2 tersebut akan cenderung naik juga. Sebaliknya, kalau IHSG turun sangat banyak, saham2 tersebut juga berpotensi jatuh. 

IHSG

Saham ASII

Contoh saham ASII yang chartnya kurang lebih sama dengan pergerakan IHSG. Jadi kalau memang prioritas anda adalah mengincar saham2 likuid, banyak ditradingkan, maka anda perlu menganalisa juga pergerakan IHSG. 

Ada banyak penyebab naik turunnya IHSG. Kalau anda mempelajari pergerakan IHSG, berarti anda harus mempelajari sentimen2 apa saja yang saat itu berada di pasar saham, yang bisa mempengaruhi pergerakan mayoritas harga saham. Baca juga: 2 Penyebab Turunnya IHSG. 

Kalau saat itu banyak sentimen negatif, IHSG cenderung downtrend, pasar saham sehari naik, turunnya bisa sampai 3-4 hari, maka bisa pertimbangkan untuk wait and see atau membeli saham lebih sedikit (kalau memang anda mengincar saham2 yang cenderung searah dengan IHSG). 

Karena kalau IHSG sedang merah padam, dan anda memaksakan beli saham banyak dengan asumsi saham-saham sudah murah, kemungkinan besar saham yang anda beli akan turun lagi. 

Disini: Analisis Teknikal untuk Profit Maksimal, saya juga sudah menjelaskan momentum2 terbaik untuk trading berdasarkan analisis teknikal dan IHSG / analisa market. Anda bisa pelajari dan terapkan. 

Itulah kenapa di web Saham Gain ini, terutama di halaman: Rekomendasi Saham, saya sering memberikan saran pada anda untuk selalu mencermati kondisi market (IHSG) termasuk indeks luar negeri terutama Dow Jones ketika anda ingin trading. 

"Oke, lalu sampai sebatas mana IHSG turun kita tetap boleh trading Pak Heze?" Tanya anda 

Nah ini pertanyaan bagus. Anda bisa tetap pertimbangkan trading kalau IHSG hanya koreksi normal, dalam arti sedang tidak banyak sentimen negatif yang membuat IHSG lesu (turun terus) dan transaksi saham jadi sepi. 

Untuk mengetahui hal ini, anda harus sering mengamati market, dan pelajari chart / teknikal IHSG itu sendiri. Dengan cara tersebut, anda akan mengetahui kondisi-kondisi IHSG yang turun karena koreksi dan IHSG turun karena sentimen2 jelek yang menyebabkan transaksi di pasar saham jadi cenderung sepi. 

Selain itu, tentu saja anda juga harus perhatikan analisa teknikal saham-saham pilihan anda secara spesifik, dan manfaatkan technical rebound. Anda bisa pelajari disini: Technical Rebound Saham. 

Tidak selamanya IHSG bagus untuk menjadi patokan dan analisa sebelum trading. Kalau anda adalah tipikal trader yang suka membeli saham yang pergerakannya cenderung berlawanan dengan arah IHSG... 

Contohnya seperti saham-saham gorengan / saham lapis tiga, maka anda sama sekali tidak perlu memperhatikan IHSG.. Mau IHSG naik atau turun, tetap ada saham-saham gorengan yang bisa naik puluhan persen. Tapi ingatlah juga bahwa saham2 gorengan risikonya besar (high risk). 

Kesimpulannya, di dalam trading anda harus tetap perhatikan dan pelajari kondisi pasar saham / IHSG (terutama untuk anda yang membeli saham yang punya korelasi positif dengan IHSG). Pergerakan lesu tidaknya IHSG juga menentukan reaksi market untuk membeli saham.


Katalog produk digital dan jasa freelance indonesia, cek dibawah ini.

Analisa Saham: 2 Penyebab IHSG Turun

Setiap hari IHSG akan selalu bergerak naik dan turun (koreksi). Di pos ini, saya ingin membahas penyebab IHSG turun. Ketika mendengar kata-kata "IHSG turun", mungkin kedengarannya nggak ada yang spesial. 

Akan tetapi di dalam praktikknya, penurunan IHSG seringkali membuat para trader menjadi panic. Padahal dalam kondisi anda panic, anda justru tidak akan bisa mengambil keputusan dengan jernih untuk memanfaatkan setiap peluang yang ada di market. 

Sebenarnya ada banyak sekali mengapa IHSG bisa turun di saat-saat tertentu. Akan tetapi, ada dua penyebab utama yang membuat IHSG bisa turun / koreksi. Apa saja itu? 

1. Berita / sentimen negatif 

Berita ataupun sentimen negatif bisa membuat IHSG turun. Bahkan ketika IHSG sedang bergerak normal, dan ada sentimen negatif mendadak, IHSG bisa langsung koreksi dengan cepat. 

Sentimen / berita negatif itu bisa bermacam-macam. Misalnya, terdapat berita pertumbuhan ekonomi turun, nilai tukar Rupiah terus melemah dan lain-lain. 

Beberapa waktu lalu IHSG juga sempat anjlok ketika ada berita pembubaran PT Minna Padi Asset Manajemen (MPAM) oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Anda bisa baca kasus reksadana Minna Padi di Google (kalau saya jelaskan disini terlalu panjang). 

MPAM ini kan menyimpan banyak saham di portofolio, di mana ada banyak saham yang juga merupakan saham-saham lapis satu (seperti BBRI, BMRI, PGAS) dan saham2 lapis dua seperti ANTM, WIKA, WSKT, PTPP. Jadi otomatis, MPAM harus menjual saham2nya secara bertahap sesuai kewajiban yang ditentukan OJK. 

Karena penjualan saham2 tersebut juga berasal dari saham2 lapis satu dan saham lapis dua (second layer), maka akan ada banyak saham yang turun, yang otomatis juga bisa membuat IHSG drop. 

Efek dominonya, ketika ada berita MNAC akan menjual saham2 dalam jumlah besar (ditambah kasus2 negatif MNAC), maka hal iin akan menimbulkan panic selling pelaku pasar sesaat, sehingga akan membuat IHSG drop lebih banyak. 

Inilah salah satu penyebab IHSG turun, dan hal ini sering sekali terjadi di market (dengan berbagai sentimen2 yang seringkali tidak kita duga).

2. Secara teknikal, IHSG sudah naik banyak 

Yang paling sering menjadi penyebab turunnya IHSG adalah karena secara analisa teknikal IHSG memang sudah naik cukup tinggi. Anda harus pahami konsep di saham bahwa harga saham itu akan selalu bergerak naik dan turun. Pelajari juga: Konsep Trading Saham: Beli Saat Mau Naik, Jual Saat Mau Turun.

Demikian juga dengan IHSG. Ya jelas lah, IHSG kan adalah kumpulan dari pergerakan seluruh harga saham di Bursa Efek. 

Jadi kalau IHSG sudah naik tinggi (karena banyak yang beli saham), secara konsep analisa teknikal, cepat atau lama IHSG pasti akan balik turun  /koreksi sebagai respon dari aksi para trader yang ambil untung / take profit. Sebagai praktiknya, anda bisa lihat IHSG berikut ini: 

IHSG Turun
Perhatikan candlestick terakhir (paling kanan). Anda bisa lihat candlestick tersebut berwarna merah dengan candle yang panjang. Ini artinya IHSG sedang mengalami penurunan tajam di hari itu. 

Hal ini wajar, karena kalau kita perhatikan chart IHSG, IHSG kita juga sudah naik tinggi selama 1 bulan terakhir (tanda panah). Di satu sisi, IHSG juga membentuk pola triple top (tanda lingkaran) yan merupakan sinyal koreksi yang cukup kuat. 

Jadi kalau secara teknikal IHSG saja sudah naik tinggi, yaaa wajar saja kalau IHSG cepat atau lama bakalan koreksi. 

Pos ini menuju satu kesimpulan: Jika anda menemukan banyak saham turun dan IHSG koreksi tajam, selain cek berita yang terjadi, cek juga analisa teknikal (chart) IHSG tersebut. Hal ini juga menjadi salah satu cara yang bisa anda lakukan untuk mengurangi panic selling saat IHSG turun.


Katalog produk digital dan jasa freelance indonesia, cek dibawah ini.

Backlink 9999 Traffic Super

Order Now...!!!!